Tadabur Q.S. an-Nisā’/4: 59 dan Q.S. an-Naḥl/16: 64, Pendidkan Agama Islam SMP Kelas VII Kurikulum Merdeka

Kontenjempolan.id-Tadabur Q.S. an-Nisā’/4: 59 dan Q.S. an-Naḥl/16: 64, Pendidkan Agama Islam SMP Kelas VII Kurikulum Merdeka. Hallo Generasi Islami. Kali ini kakak akan menjelaskan sedikit tentak kandungan kedua surat. Smoga Bermanfaat.

Tadabur Q.S. an-Nisā’/4: 59 dan Q.S. an-Naḥl/16: 64

Q.S. an-Nisā’/4: 59

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

59. أَطِيعُوا۟ اللهَ وَأَطِيعُوا۟ الرَّسُولَ (taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya))
Setelah Allah memerintahkan para qadhi dan penguasa apabila mereka memutuskan perkara diantara rakyatnya agar mereka memutuskannya dengan kebenaran, maka disini Allah memerintahkan para rakyat untuk mentaati pemimpin mereka. Dan hal itu didahului dengan perintah untuk mentaati-Nya dan mentaati Rasul, karena qadhi atau penguasa apabila menyelisihi hukum Allah dan rasul-Nya maka hukum mereka tidak berlaku.

وَأُو۟لِى الْأَمْرِ (dan ulil amri)
Mereka adalah para Imam, Sultan, Qadhi, dan semua yang memiliki kekuasaan yang syar’i dan bukan kekuasaan yang mengikuti thaghut.
Yang dimaksud dengan ketaatan kepada perintah dan larangan mereka adalah dalam apa yang bukan kemaksiatan sebagaimana telah datang hadist dari Rasulullah (tidak ada ketaatan bagi makhluk dalam kemaksiatan kepada Allah).
Dan pendapat lain mengatakan yang dimaksud dengan ulil amri adalah para ulama al-qur’an dan fiqih yang menyuruh kepada kebenaran dan menfatwakannya sedang mereka memiliki ilmunya.

فَإِن تَنٰزَعْتُمْ (Kemudian jika kamu berlainan pendapat)
Yakni antara sebagian kalian dengan sebagian yang lain, atau sebagian kalian dengan para pemimpin.

فِى شَىْءٍ (tentang sesuatu)
Yang mencakup urusan-urusan keagamaan dan keduniaan.

فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ (maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul)
Adapun mengembalikannya kepada Allah adalah dengan mengembalikannya kepada al-Qur’an, dan mengembalikannya kepada Rasul adalah dengan mengembalikannya kepada sunnah-sunnahnya setelah kematiannya, namun ketika ia masih hidup maka dengan bertanya dan meminta hukum dan putusan kepadanya.

إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ۚ (jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian)
Pengembalian hukum kepada Allah dan rasul-Nya merupakan suatu kewajiban bagi kedua belah pihak yang berselisih, dan ini merupakan salah satu sifat dari orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.

ذٰلِكَ (Yang demikian itu)
Isyarat ini ditujukan pada pengembalian hukum yang diperintahkan tersebut.

خَيْرٌ (lebih utama)
Yakni lebih utama bagi kalian.

وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا(dan lebih baik akibatnya)
yakni Allah dan Rasul-Nya adalah rujukan yang lebih baik daripada anggapan kalian bahwa apabila terjadi perselisihan kalian merujuk kepada selain Allah dan rasul-Nya.
Pendapat lain mengatakan yang dimaksud adalah lebih baik balasan dan pahalanya.

Q.S. an-Naḥl/16: 64

وَمَآ أَنزَلْنَا عَلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ ٱلَّذِى ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ ۙ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Artinya: Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Aisarut Tafasir / Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid Nabawi

Makna ayat:

oleh karena itu Allah ta’ala berfirman pada ayat yang kedua “dan Kami tidak menurukan Kitab” untuk menyulitkan atau menyiksamu tetapi agar engkau menjelaskan kepada manusia yang mereka berselisih dalam tauhid dan syirik, dan petunjuk dan kesesatan. Sebagaimana Kami menurunkan kitab sebagai petunjuk yang digunakan kaum mukminin menuju jalan kebahagiaan dan keselamatan mereka, serta rahmat yang dapat diraih dengan mengamalkannya (kitab) dengan mempraktekkannya baik dari segi akidah, ibadah, akhlak, adab, dan hukum. Maka mereka hidup dengan saling menyayangi berdasarkan persaudaraan dan rasa sayang, serta rahmat dan keselamatan senantiasa meliputi mereka.

Pelajaran dari ayat:

a Penegasan kenabian dan hiburan bagi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dari apa yang beliau hadapi dari kaum musyrikin.
b Penjelasan tugas Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu sebagai penyampai apa yang Allah ta’ala turunkan kepad para hamba-Nya berupa wahyu dari kitab-Nya.
c Penjelasan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk dan rahmat bagi kaum mukminin yang mengamalkannya.

Ringkasan Kandungan Kedua Surat

Pada bab ini terdapat dua ayat menjadi inti materi Q.S. an-Nisā’/4: 59 dan Q.S. an-Naḥl/16: 64. Kedua ayat ini berhubungan dengan kedudukan Al-Qur’an dan Hadis sebagai pedoman hidup.

Kandungan Q.S. an-Nisā’/4: 59 menjelaskan untuk patuh dan taat kepada Allah Swt., Rasulullah saw. dan pemimpin-pemimpin kita. Ketaatan ini adalah mutlak dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Orang yang taat kepada Rasulullah saw pada hakikatnya ia juga taat kepada Allah Swt. Hal ini dikarenakan tidak ada satupun perintah Rasulullah saw. yang bertentangan dengan perintah Allah Swt.

Taat kepada Allah Swt. adalah mengikuti ajaran Al-Qur’an, sedangkan taat kepada Rasulullah saw. dengan mengamalkan sunah-sunahnya. Sebagai orang yang beriman, wajib beriman kepada Allah Swt. dan Rasulullah saw. sebagai pembawa risalah dari Allah Swt.

Ketaatan kepada ulil amri meliputi ketaatan baik pada pemerintahan maupun para ulama. Taat kepada pemimpin hendaknya dibingkai dengan ketaatan kepada Allah Swt. dan rasul-Nya. Ketaatan pada mereka tidak boleh bertentangan dengan apa yang diperintahkan dan apa yang menjadi larangannya. Apabila seorang pemimpin memerintahkan untuk berbuat sesuatu yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadis seperti berbuat maksiat kepada Allah Swt., maka tidak boleh untuk menaatinya.

Untuk penyempurnaan amanat pada ayat ini, muslim harus menaati perintah dengan mengamalkan Al-Qur’an, melaksanakan hukum sesuai dengan Al-Qur’an meskipun berat dalam pelaksanaan. Muslim hendaknya meyakini bahwa perintah Allah Swt. memberikan kemaslahatan dan larangan-Nya untuk menghindarkan kemadaratan. Ajaran dari Rasulullah saw. hendaknya dilaksanakan sebaik-baik-Nya. Sebab, Rasulullah saw diberikan tugas untuk menerangkan dan menjelaskan Al-Qur’an pada manusia. Muslim yang baik, ia menaati ulil amri selama kebijakan mereka tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadis. “Tidak dibenarkan taat kepada makhluk di alam hal-hal yang merupakan maksiat kepada Khalik (Allah Swt).” (H.R. Ahmad).

Pada Q.S. an-Naḥl/16: 64, Nabi Muhammad saw. diperintahkan oleh-Nya untuk menjelaskan apa yang diperselisihkan dalam perkara agama. Penjelasan ini akan menjadikan manusia dapat membedakan perkara yang benar dan salah. Al-Qur’an menjadi tuntutan menuju jalan yang benar juga menjadi rahmat (kebaikan) bagi semua orang.

Kedua ayat di atas menjelaskan bahwa Al-Qur’an dan Hadis menjadi sumber ajaran dan pedoman dalam menjalani kehidupan. Al-Qur’an berfungsi sebagai pedoman dan sumber dasar, sedangkan Hadis berfungsi memberikan penjelasan atau rincian. Yakni, dengan menjelaskan maksud ayat atau memberi bimbingan untuk berperilaku sesuai tuntunan Al-Qur’an.

Perilaku semangat untuk mendalami Al-Qur’an dan Hadis sesuai dengan Q.S. an-Nisā’/4: 59 dan Q.S. an-Naḥl/16: 64.

a. Setiap orang beriman harus taat kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya.

b. Sebagai orang beriman, kita juga harus menaati pemimpin baik pemimpin dalam pemerintahan maupun para ulama.

c. Apabila terjadi perdebatan dalam masalah agama, agar kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis.

d. Membaca Al-Qur’an dengan baik, memahami terjemah, dan membaca buku tafsir.

e. Membaca buku-buku yang berkenaan dengan Hadis.

f. Berkonsultasi dengan guru terkait bacaan atau kandungan Al-Qur’an dan Hadis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.