Kunci Jawaban Cerita Bola – Bola Waktu Bahasa Indonesia Waktu  Halaman 52  Kelas 7 Kurikulum Merdeka

Kontenjempolan.id – Kunci Jawaban Cerita Bola – Bola Waktu Bahasa Indonesia Waktu  Halaman 52  Kelas 7 Kurikulum Merdeka. Hai Adik-adik! Kali ini Kontenjempolan.id akan membahas Kunci Jawaban Cerita Bola – Bola Waktu Bahasa Indonesia Waktu  Halaman 52  Kelas 7 Kurikulum Merdeka.

 

MEMBACA

Bola – Bola Waktu

Ivan menendang kerikil di jalan dengan kasar hingga terpelanting
berhamburan. Debu mengepul dari kerikil-kerikil itu. Lagi-lagi ia dijadikan
bahan tertawaan! Ini semua gara-gara kue basah Ibu! Setiap hari Ivan harus
bangun pukul setengah empat pagi dan membantu Ibu membuat aneka kue
basah. Ivan juga harus pergi lebih pagi untuk mengantarkan kue-kue itu
ke beberapa warung menuju sekolah. Hal yang paling memalukan, Ivan
menitipkan kue itu juga di kantin sekolah! Ketika Fiam, anak paling usil di
kelasnya tahu, ia segera mengejek Ivan. Dan begitu Fiam memulai, julukan
“tukang kue” untuknya pun langsung diikuti teman-teman sekelas.
Seolah belum cukup memalukan, bangun pagi dan rasa lelah bekerja
sejak subuh membuat Ivan sering tertidur saat pelajaran.
“Wah, tukang kue mau alih profesi jadi tukang
tidur,” ejek Fiam yang memancing tawa sekelas.
Ivan masih menendang kerikil-kerikil itu.
“Aku tidak mau lagi!” teriak Ivan dalam hatinya.
“Aku tidak mau lagi berjualan kue. Aku ingin
menjadi anak SMP yang keren dan dikagumi oleh
teman-temanku!”
“Kau yakin?”
Ivan menengok. Seorang pria berkerudung hitam
memandangnya. Bibir pria itu tersenyum ramah.
Di meja di hadapannya tergeletak aneka bola warnawarni.
Ivan memandang pria itu sambil mengerutkan
alisnya. Apakah dia peramal? tanya Ivan dalam
hati.

“Kau ingin melihat apa yang terjadi apabila kau berhenti berjualan
kue?”
Ragu-ragu, Ivan mengangguk. Ia lalu mengambil bola merah yang
disodorkan pria itu. Seketika, tubuhnya terasa ringan, dunia di sekitarnya
berputar.
Ivan terkesiap. Ia terbangun di sebuah kamar yang terasa asing. Dengan
heran, ia menatap Nina dan Danu, adiknya. Mengapa mereka tidur di sini?
Ivan menatap sekeliling. Kamar itu sempit, pengap, dan terutama sangat
berantakan! Barang-barang miliknya tergeletak di mana saja, sementara
tumpukan buku koleksi Nina dan mainan Danu memenuhi sudut-sudut
kamar.
“Pukul 06.00? Aku terlambat untuk membuat kue!” Ivan segera berdiri
dan keluar kamar.
“Kamu sudah bangun, Van?” suara Ibu menyapanya. Mata Ivan
membelalak lebar melihat kerut-kerut yang bertambah di wajah Ibu dan
kelelahan yang tergambar jelas di sana. “Syukurlah. Ibu pergi dahulu, ya.
Jangan lupa, antar adik-adikmu ke sekolah.”
Ivan termangu. Ia menatap sosok Ibu yang membawa kotak-kotak
berisi aneka kue basah. Jadi, tampaknya mereka masih berjualan kue basah.
Hanya, kali ini, Ibu tidak meminta bantuannya. Akhirnya, Ivan terbebas
dari tugasnya! Lalu, di mana Ayah? Biasanya Ayah yang mengantar Ibu
untuk pergi berjualan. Ivan memandang ke sekeliling
ruangan. Saat itulah Ivan menatap sebuah foto
berbingkai hitam di dekat meja makan. Di dalamnya,
wajah lelah ayahnya tersenyum ramah.
***
“Van, nanti siang jangan lupa latihan basket, ya.
Minggu depan kita lawan SMP Bina Bangsa.”
Ivan hanya mengangguk lesu. Sekarang ia
tahu, ia berada di tahun 2022. Tidak ada
lagi teman-teman sekelas
yang mengejeknya.
Malah bisa dikatakan, ia
memiliki cukup banyak
teman. Nilai-nilainya
bukan yang terbaik,

tetapi bukan pula yang paling jelek. Ia berhasil masuk tim basket
selama dua tahun berturut-turut.
Semua tampak sempurna. Namun, mengapa Ivan menyesal berada
di tahun ini? Tadi pagi ia mengetahui bahwa ayahnya tidak lagi bersama
mereka. Ayah meninggal karena sakit. Kata Ibu, Ayah sering mengabaikan
sakit yang dideritanya dan berkeras membantu Ibu. Ayah bahkan menolak
tawaran Ibu untuk membayar seorang pekerja. Ayah ingin hasil penjualan
kue ditabung untuk biaya kuliah Ivan nanti.
“Hai, Van! Apakah Ibumu sudah sembuh? Mamaku ingin pesan kue
basah untuk arisan, tetapi Ibumu bilang ia sedang tidak enak badan.”
Perkataan Hario menyadarkan Ivan lagi dari lamunannya. Ivan menunduk.
Ia teringat wajah menua dan lelah ibunya tadi pagi, bahkan Ibunya tidak
mengatakan kepadanya bahwa ia sedang sakit.
Ivan menelengkupkan kepala di atas meja. Andai saja penyesalan bisa
memutar kembali waktu, ia lebih memilih membantu kedua orang tuanya
berjualan kue. Matanya terasa panas. Kepalanya terasa berputar. Ivan
mengerjap.
“Van, kamu nggak apa-apa, Van?” suara Hario terdengar cemas dan
makin jauh.
Lalu segalanya gelap.
***
Seseorang mengguncang tubuhnya lembut. “Ivan, bangun, Nak.”
Ivan memicingkan mata. Ia mengenal suara tegas tetapi lembut itu.
“Ayah! Syukurlah!” Ivan segera tersadar dan memeluk ayahnya erat.
“Wah, wah, wah …! Tadi kamu mimpi buruk, ya?”
Pagi masih gelap saat Ivan melihat ke luar jendela. Ivan tahu ia harus
bangun lebih pagi karena mereka mendapat pesanan kue untuk acara
pernikahan dan rapat di kantor RW. Memikirkan pesanan kue itu, Ivan
melompat dari tempat tidur dengan penuh semangat.
“Ayah, Ibu, tahu nggak? Kue-kue basah buatan Ibu ini banyak yang
suka, loh!” cerita Ivan.
Untuk sesaat, Ayah dan Ibu saling memandang dan menyimpan
senyum geli. Mungkin mereka heran melihat Ivan yang tak lagi menggerutu
dan malas-malasan saat membantu.
“Eih, aku serius loh ini,” tambah Ivan lagi melihat reaksi kedua orang
tuanya.

Ayah tergelak. Ia mengusap kepala Ivan dengan lembut, “Tentu saja
kami tahu, ini kan resep warisan turun-temurun!”
Tepat pukul 05.00, kue-kue basah nan cantik telah siap. Harum manis
kue memenuhi rumah. Meski lelah, Ivan merasa bangga melihat kue-kue
yang baru ditatanya. Rasanya ia makin mahir menata kue-kue ini.
“Van, tolong masukkan setiap jenis ke dalam kotak untuk pesanan
kawinan dan Pak RW, ya. Biar Ayah yang menyiapkan untuk dibawa ke
pasar. Ibu mau membuat sarapan dahulu sebelum adik-adikmu bangun,”
kata Ibu.
Ivan mengangguk. Saat memasukkan kue-kue ke dalam setiap kotak,
sebuah ide melintas dalam benaknya. Masih ada 30 menit sebelum ia
harus bersiap ke sekolah. Ivan mengambil selembar kertas, lalu segera
menggambar sebuah kotak berisi aneka kue cantik.
“Camilan Cantik Akhir Minggu,” begitu Ivan memberi judul gambar
tersebut. Di bagian bawah gambar, Ivan menulis, “Untuk pemesanan,
hubungi Ivan – kelas VII B.”

Kemudian, jawablah pertanyaan di bawah ini!

1. Siapakah nama tokoh cerita Bola-Bola Waktu?
Jawaban :

Tokoh Cerita Bola – Bola Waktu Adalah Ivan

2. Apa yang diinginkannya di awal cerita?
Jawaban :

Yang Diinginkan di Awal Cerita Adalah Menjadi anak SMP yang dikagumi teman-temannya.

3. Bagaimana ia memenuhi keinginannya itu?
Jawaban :

a. Mengambil bola yang ditawarkan peramal
b. Pergi ke masa depan

4. Mengapa ia merasa sedih ketika akhirnya keinginannya itu tercapai?
Jawaban :

a. Ayahnya sudah meninggal.
b. Ibunya terlihat tua dan lelah.
c. Ibu bekerja sendirian, ayah telah meninggal.

5. Apa yang akhirnya ia lakukan?
Jawaban :

a. Lebih rajin membantu berjualan kue
b. Ikut berjualan kue di sekolah, tidak malu lagi

6. Menurut kalian, bagaimana perasaannya di akhir cerita?
Jawaban :

a. Bahagia karena bisa membantu kedua orang tuanya
b. Bangga karena kuenya laris manis

Adik-adik, itulah contoh Kunci Jawaban Cerita Bola – Bola Waktu Bahasa Indonesia Waktu  Halaman 52  Kelas 7 Kurikulum Merdeka. Selamat belajar dan semoga bermanfaat.

Disclaimer: Kunci jawaban ini merupakan panduan bagi orang tua. Siswa bisa bereksplorasi dengan jawaban lain. Jawaban di atas hanyalah contoh dan tidak mutlak. Kontenjempolan.id tidak bertanggung jawab atas kesalahan pada kunci jawaban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.