Kemenparekraf Dorong Kolaborasi Revitalisasi Istana Mini Banda Neira Jadi Istana Kepresidenan

BANDA NEIRA – Pemerintah Provinsi Maluku dengan dukungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi akan merevitalisasi Istana Banda Neira Dan Mini menjadi Istana Kepresidenan Maluku.

Istana Mini Banda Neira merupakan salah satu bangunan bersejarah pada zaman kolonial. Istana ini didirikan oleh Belanda pada tahun 1622 dan berfungsi sebagai tempat tinggal pejabat VOC dan Kotroleurs. Istana Banda Neira juga digunakan sebagai tempat penyimpanan rempah-rempah.

Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif/Badan Pariwisata dan Industri Kreatif bersama Deputi Bidang Pengembangan dan Prasarana Destinasi Direktorat Pengembangan Destinasi II turut hadir dalam Rapat Koordinasi Pembangunan Istana Kepresidenan di Banda Neira yang dipimpin langsung oleh Deputi Bidang Pengembangan Industri Kreatif Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Mariinves). ), Sartin Hia, di ruang rapat Kantor Gubernur Maluku, Jumat (4/8/2022), didampingi Asisten II Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Bidang Ekonomi dan Pembangunan Meikyal Pontoh dan Wakil Bupati Maluku Tengah Marlatu Leleury.

Pertemuan tersebut juga dihadiri perwakilan dari Bappenas dan kementerian lainnya, antara lain Kementerian Perhubungan, Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.

Dari Pemerintah Daerah Maluku, Kepala Biro Pariwisata Provinsi Maluku Karo Adm. Pimpinan, Dinas PUPR, Dinas Perhubungan, Balai Pelestarian Nilai Budaya Maluku, Balai Pelestarian Cagar Budaya Maluku & Maluku Utara, serta beberapa sivitas akademika Unpatti. Kantor Presiden hadir dalam zoom.

Senada dengan pandangan Menteri Pariwisata dan Industri Kreatif/Kepala Dinas Pariwisata dan Industri Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno, untuk mendukung Istana Mini Banda Neira sebagai istana kepresidenan masa depan, perlunya penerapan inovasi, adaptasi dan kolaborasi segera disadari.

Deputi Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Deputi Menteri Pariwisata dan Industri Kreatif Vinsensius Jemadu yang ditemui di Jakarta mengatakan, menjadikan Istana Mini Banda Neira sebagai istana kepresidenan merupakan inovasi dalam pengembangan destinasi pariwisata. Ini akan menjadi daya tarik wisata utama.

“Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif siap mendukung dan mendorong Istana Mini Banda Neira menjadi Istana Kepresidenan. Kami berharap ini akan membawa nilai tambah ekonomi di bidang pariwisata dan industri kreatif, ”kata Vinsen.

Wawan Gunawan, Direktur Pengembangan Destinasi II Kemenparekraf, mengatakan akan fokus membuat destinasi wisata di Kepulauan Banda siap dan layak dikunjungi, dipromosikan dan dijual kepada wisatawan.

Menurut Wawan, salah satu bentuk dukungan dari Direktorat Pengembangan Destinasi II adalah menjaga bimbingan teknis pengelolaan homestay, pendampingan dan dukungan peralatan homestay untuk membantu kesiapan fasilitas menerima kunjungan wisatawan.

“Dengan mengubah Istana Mini Banda Neira menjadi istana kepresidenan, pemerintah daerah harus bisa memanfaatkan momentum Banda untuk menarik perhatian pemerintah pusat,” kata Wawan.

Menurutnya, sinergi untuk membangun pariwisata yang berkualitas, terintegrasi dan berkelanjutan di Banda Neira membutuhkan kerjasama antara kementerian/lembaga pusat dan daerah untuk benar-benar fokus pada anggaran yang tepat, tepat tujuan, tepat manfaat dan tepat waktu. konsentrat.

“Karena Kepulauan Banda memiliki potensi yang luar biasa, keindahan wisata alam, geopark, wisata budaya, serta wisata buatan, dan yang sangat penting adalah pemberdayaan masyarakat berbasis budaya lokal dan melibatkan tokoh-tokoh lokal dan masyarakat adat untuk menciptakan nilai untuk meningkatkan kesejahteraan,” ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku, Marcus Jozef Pattinama atau lebih dikenal Max Pattinama, menyatakan satu-satunya narasi Istana Banda Mini sebagai istana kepresidenan di Indonesia Timur. Menurutnya, Istana Mini Banda sebenarnya merupakan prototipe dari beberapa istana kepresidenan di Indonesia bagian barat.

“Walaupun nanti ada pemugaran, diharapkan Istana Banda Mini tetap terjaga keasliannya. Sisi sejarah Kepulauan Banda dinilai penting dan menarik untuk dicalonkan sebagai salah satu ibu kota pengajuan Istana Mini Banda Neira sebagai Istana Kepresidenan,” ujarnya.

Max Pattinama menambahkan penunjukan Banda sebagai mesin pariwisata Maluku, sehingga provinsi dan kabupaten/kota harus sejajar, dan langkah maju Maluku.

“Pengembangan Banda perlu dalam konteks pengembangan wilayah dengan gugusan 9 pulau, dan untuk mengatasi aksesibilitas pengembangan Banda sebagai motor penggerak pariwisata Maluku, Pemda Maluku telah bekerjasama dengan investor Australia yang terkait dengan Aron Korea. telah bersinergi menyediakan teknologi WIG Craft, Wings in Ground Craft, yang dapat menghubungkan lokomotif dengan gerbong pariwisata Maluku, yang tentunya dapat mendukung pengembangan pariwisata Maluku lebih tertata,” ujar Max Pattinama antusias.

Bappenas yang diwakili oleh Muhammad Abdurrachman Rafi memberikan jawaban singkat terkait hal tersebut. Menurut dia, Pemprov Maluku harus memiliki visi yang jelas terkait Banda serta suara antara Pemprov dan Kabupaten Maluku Tengah.

“Ke depan harus ada zonasi yang jelas pariwisata mana yang ingin ditekankan. Pada tahun 2023, proyek ini akan menjadi proyek lintas departemen. Bappenas juga meminta pemerintah daerah menyiapkan data DAC 2023 setepat mungkin,” ujarnya.

Asdep Kemenkomarves, Sartin Hia mengingatkan pemerintah daerah agar cepat dan sungguh-sungguh menyusun masterplan pariwisata kawasan Kepulauan Banda.

“Kemenkomarves akan memantau secara penuh,” katanya.

Kementerian Perhubungan, khususnya Perhubungan Udara yang diwakili Edison Saragih, sepakat memberikan dukungan penuh terhadap infrastruktur transportasi udara. Saat ini ada dua penerbangan pilot pesawat dalam seminggu. Rencana pengembangan dan perluasan landasan pacu bandara telah digulirkan sejak tahun lalu dan masih membutuhkan kajian lanjutan yang lebih komprehensif.

Kepala Dinas PUPR Provinsi Maluku memaparkan rencana pemugaran Istana Banda Mini. Dalam detail engineering design (DED), pendataan kawasan cagar budaya dengan pusat keraton mini, rencana penanganan pemugaran keraton mini, serta rencana konversi rumah pengasingan bung Hatta. disampaikan.

Ia juga mengatakan, DED Tahap II nantinya akan dikaitkan dengan rencana revitalisasi kawasan sekitar antara lain bandara, pasar, pelabuhan, dan lain-lain.

Wakil Bupati Maluku Tengah didampingi Kepala Dinas Pariwisata dan Olahraga Maluku Tengah,
mengingat bahwa setiap rencana yang dibuat dapat mempertimbangkan aspek masyarakat dan alam Banda.

“Selain itu, sinergi dan kerjasama antara pemerintah provinsi dan kabupaten sangat perlu ditingkatkan,” ujarnya.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Balai Pelestarian Nilai Budaya Maluku (BPNB) dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Maluku & Maluku Utara juga memberikan komentar di forum tersebut.

Baik Rusli dari BPNB maupun Husni dari BPCB menekankan pentingnya melestarikan warisan budaya di Banda. Pengelolaan dan pemanfaatan nilai-nilai budaya di kawasan ini sebenarnya menjadi pekerjaan rumah bersama.

“Pemugaran Istana Mini akan sia-sia jika tidak ada konsep yang jelas untuk pengelolaan Istana Mini Banda sesudahnya. Oleh karena itu, konsep revitalisasi keraton harus jelas, berkualitas, terpadu dan berkelanjutan, serta melibatkan banyak masyarakat lokal dengan pendekatan kearifan lokal dan budaya masyarakat adat setempat,” ujarnya.

Rapat koordinasi ditutup dengan beberapa sambutan penting dari Deputi Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Kementerian Kelautan dan Perikanan yang menekankan bahwa harus ada satu kesatuan cerita terkait narasi tunggal Istana Mini Banda.

“Mengusulkan untuk mengadakan seminar narasi tunggal tentang Istana Mini Banda, serta mempersiapkan timeline yang jelas dan ringkas terkait dengan Rencana Pembangunan Infrastruktur dan DED. Tim dari seluruh Kementerian/Lembaga bersama Pemda Maluku kemudian langsung meninjau keraton yang terletak di Banda Neira tersebut,” tutup Sartin.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.